Posted by: Indonesian Children | April 29, 2010

Gangguan Makan Pada Semua Usia

Gangguan Makan Pada Semua Usia

BANYAK orang pasti pernah mendengar anoreksia nervosa, bulimia, atau problem makan lainnya seperti kompulsif terhadap makanan dan sangat doyan makan. Jika ini terjadi, orang sering secara otomatis mengasumsikannya sebagai masalah makanan. PADAHAL gangguan tersebut bukanlah pertanda seseorang mempunyai masalah dengan makanan. Gangguan tersebut sebenarnya hanya merupakan simptom terhadap masalah yang berada di bawah permukaan.

Barangkali ini bisa disamakan dengan mereka yang bermasalah dan melarikan diri kepada alkohol. Dalam hal ini makanan digunakan untuk keperluan yang sama. Penderita anoreksia misalnya, begitu terobsesi dengan hitungan kalori dan sedemikian inginnnya kurus sehingga sehari-hari cuma itu yang mereka pikirkan.

Bagi mereka, lebih mudah untuk berpikir tentang kalori, kemudian menghadapi masalah yang kemungkinan mereka tidak tahu cara menanganinya.

Dengan penyembuhan yang memadai, orang yang terkena gangguan itu bisa sembuh. Sebaliknya pengabaian terhadap masalah ini bisa berakibat fatal berupa kematian secara perlahan-lahan yang sudah banyak dialami banyak orang di seluruh dunia. Harus disadari juga, penderita anoreksia atau bulimia tak cuma terjadi pada wanita remaja, tetapi bisa juga dialami anak-anak, perempuan dewasa, dan bahkan pada pria dewasa.

Saat ini makin banyak anak-anak usia sembilan sampai 12 tahun yang mengidap penyakit gangguan makan, terutama anoreksia nervosa dan penyakit makan inpulsif. Di negara-negara maju diperkirakan sekitar 40 persen anak-anak usia sembilan tahun mulai mengenal diet.

Penyebab terjadinya masalah itu diduga kuat erat kaitannya dengan lingkungan keluarga dan masyarakat yang secara terus-menerus mencekoki pendapat betapa pentingnya menjadi kurus. Karena sedemikian terobsesinya menjadi kurus, yang terjadi mereka takut menyentuh makanan dan bahkan merasa bersalah kalau makan.

Merasa gemuk

Mereka yang menderita anoreksia nervosa sebenarnya secara fisik mudah dikenali. Biasanya berat badan mereka sedikitnya 15 persen lebih rendah dibanding berat badan ideal pada umumnya.

Meskipun demikian, orang yang bersangkutan tetap merasa diri kelebihan berat badan sehingga selalu berusaha untuk menolak makanan. Rasa lapar yang normal dialami orang yang kekurangan makan, mereka tahan sedemikian rupa sehingga sebenarnya mereka sangat menderita. Bisa dibayangkan, jika ini terjadi selama bertahun-tahun, penderita akan kekurangan gizi. Komplikasi yang terjadi biasanya memperparah keadaan sehingga di negara maju sekitar 10 sampai 20 penderita anoreksia akhirnya meninggal.

Penderita anoreksia menurut penelitian para ahli biasanya adalah orang-orang yang mengejar kesempurnaan. Mereka membuat standar yang sangat tinggi dan selalu menempatkan kebutuhan orang lain di atas kebutuhan mereka sendiri. Orang anoreksia merasa hanya bisa mengawasi hidup dalam bidang makanan dan berat tubuh.

Timbangan badan menjadi patokan sukses atau tidaknya mereka.

Jika timbangan berkurang, mereka merasa berkuasa dan dalam keadaan terkontrol. Kadang-kadang memfokuskan diri pada masalah kalori dan mengurangi berat badan merupakan cara mereka mengurangi emosi dan perasaan.

Penderita anoreksia sering kali menangkal adanya sesuatu yang tidak beres pada dirinya. Mereka umumnya bertahan terhadap setiap usaha untuk membantu mereka. Sebab, ide untuk melakukan terapi dipandang hanya sebagai cara pemaksaan agar mereka mau makan.

Wanita dewasa

Bahwa wanita remaja yang selalu disebut-sebut rawan anoreksia atau bulimia, memang ada benarnya. Tetapi, kenyataan juga menunjukkan semakin banyak ditemukan wanita dewasa yang menderita gangguan tersebut. Seperti juga remaja, wanita usia 20-an, 30-an, 40-an atau lebih, banyak yang menginginkan selangsing remaja.

Kendati demikian, alasan berkembangnya gangguan makan bisa bervariasi. Hanya saja perasaan yang dirasakan biasanya sama. Para wanita dewasa tersebut merasa membenci dirinya, merasa tidak berharga, tidak mempunyai kebanggan diri. Dan sering kali mereka merasa agar bisa bahagia, mereka harus kurus. Sebagian lainnya percaya kalau mereka bisa mempunyai bentuk tubuh “ideal”, maka kehidupan mereka menjadi sempurna.

Ada sejumlah alasan mengapa penyakit gangguan makan bisa berkembang dalam usia seseorang yang relatif cukup matang. Dengan tingkat perceraian yang tinggi, banyak perempuan berpacaran lagi pada usia 40-an atau 50-an.

Mereka pikir untuk mendapatkan pria (lagi) mereka harus langsing. Jika mereka dalam ikatan perkawinan dan suaminya berselingkuh, kemungkinan mereka menyalahkan diri sendiri untuk masalah badannya (yang mereka anggap kegemukan) dan tidak menarik.

Untuk itu mereka lalu memfokuskan perhatian pada berat badan dan merasa kalau badannya kurus, suaminya tidak akan selingkuh.

Pada situasi yang berbeda, penyakit gangguan makan bisa berkembang pada wanita yang mempunyai anak-anak yang sudah dewasa. Ini terutama dialami oleh perempuan yang seluruh hidupnya didedikasikan untuk keluarga.

Ketika anak-anak sudah tidak memerlukan perhatian lagi, wanita-wanita tadi tiba-tiba merasa diri sendiri dan mulai merasa seperti tidak ada lagi tujuan pasti.

Dari sini biasanya mereka lalu memfokuskan pada masalah bobot tubuh, dengan keyakinan dia akan menjadi bahagia kalau kurus.

Bisa pria

Untuk pria, meski angka penyakit gangguan makan ini relatif lebih kecil—diperkirakan cuma sekitar 10 persen—ada tambahan masalah yang terjadi pada mereka. Karena penyakit ini dianggap sebagai “penyakit perempuan”, sulit bagi mereka untuk mencari pertolongan.

Ada kekhawatiran kalau sampai orang tahu, mereka dikira gay. Soalnya banyak orang yang berasumsi jika pria mempunyai masalah atau gangguan makan, berarti harus diragukan kepriaannya alias gay.

Anggapan demikian sebenarnya keliru. Preferensi seksual seseorang sama sekali tidak ada hubungannya dengan penyakit gangguan makan. Alasan mengapa pria menderita hal itu tidak ada bedanya dengan kenapa wanita atau anak-anak terkena gangguan itu.

Mungkin saja mereka (pria-pria tersebut) adalah korban dari penganiayaan, datang dari keluarga berantakan, menjadi obyek ejekan dari teman-teman sebayanya, dan seterusnya. Mereka juga mempunyai pengalaman perasaan seperti yang dialami penderita lainnya, termasuk tidak mempunyai kebanggaan diri, mereka orang-orang perfeksionis, tidak tahu bagaimana mengekspresikan emosi, menghindari konflik, merasa tidak berharga, serta menempatkan kepentingan orang lain melebihi kepentingannya.

Banyak penderita pria yang begitu membenci apa saja yang ada dalam dirinya, mereka merasa pantas untuk mati. Jika perasaan ini terjadi, biasanya mereka mulai menghindari hal-hal yang membuat mereka bisa bertahan hidup, termasuk yang paling utama adalah makanan.

Supported by

PICKY EATERS CLINIC

KLINIK KHUSUS KESULITAN MAKAN PADA ANAK

JL TAMAN BENDUNGAN ASAHAN 5 JAKARTA PUSAT, JAKARTA INDONESIA 10210

PHONE :62 (021) 70081995 – 5703646

Email : judarwanto@gmail.com

https://mypickyeaters.wordpress.com/

Clinical and Editor in Chief :

DR WIDODO JUDARWANTO, pediatrician

email : judarwanto@gmail.com,

Copyright © 2010, Picky Eaters Clinic Information Education Network. All rights reserved.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories